gonna go kawula muda, rasakan lezatnya city yang enak. 18-yl-12/menelantarkan seluruh ego kedalam suatu nuansa daun masa kekinian. berusaha menjaga kerahasiaan bumi animalium kedalm suatu misteri futuristik, menggerakkan belenggu janji rasa vanilla ciamik.
ku bertopi biru dan mengenakan jaket 'foot' dibalut celana tren era 90an dan berkemeja hijau terselip dalam hangatnya pagi mendung. dibawah jembatan sakti janti kami bercengkrama dengan angin tak peduli orang gila disisi sana selama satu setengah jam lebih menanti domba berkacamata, dalam keraguan melaju kencang berpetualang di ranah kedaulatan yogjakarta sembari berostalgia akan bumi animalia. beraqnjak dari tempat tak kusangka dalam percakapan mungil kami temui sobat lama berkubang dalam santap siang sungguh lezat, semacam telor yang kami sangka jamur. seberapa lama kemudian, kami mengemudi kesuatu taman agung yang dibaluti kekagunman (sebelumnya kami berkenalan dengan ruang enak disisi atas bangunan yang disebut : kamar?) menjajaki sela-sela kota yang berjejal akhirnya bergabung juga daku bersama eksebisi rupa-rupa estetis kontemporer. sungguh indah namun tak ada kekhusukan idealuis yang kami damba (cukup sesal gitu loh) menyambangi berbagai objek dan mengambil beberapa lembar gambar , dalam sebuah ruang mini generasi memajang berbagai buku enak dan oke : dari heri dono, baginda agus suwage dan arsip katalok cepek eksebisi terdahulu. lezat! kami dan lldm bersama 2 kawan biasa. melajur kesisi kanan menjamah taman cerdik , secerdik kancil namun sebelumnya kami tak menyangka akan pasar seken hand yang menjajakan majalah idaman sejak lahir :C. sungguh tak menyangka, berniaga di tempat seperti itu mendapati hal nomor satu yang kami beli mahal sekali. saya berencana memborong suatu hari kelak (25itu2?), kamui berjamaaah dn melaju kepasar dan menghadapi dua buah objek ciamik km 0 sebelum ke eksebisi tadi. dalam pasar kami orang normal dan lelah tiada ampun -- kami membunuh masa dengan hampa dan bergerak ke pasar ponsel yang berbelit-belit dalam tumpangan yang lain, kami mengendarai burung agung dengan pengaman serasa era 90an. membujur dalam ranjang tanah menanti esok, menjelmamenjadi bulan berkah dihari lusa menyantap hidangan dan menyaksikan sandiwara elektronik
ku bertopi biru dan mengenakan jaket 'foot' dibalut celana tren era 90an dan berkemeja hijau terselip dalam hangatnya pagi mendung. dibawah jembatan sakti janti kami bercengkrama dengan angin tak peduli orang gila disisi sana selama satu setengah jam lebih menanti domba berkacamata, dalam keraguan melaju kencang berpetualang di ranah kedaulatan yogjakarta sembari berostalgia akan bumi animalia. beraqnjak dari tempat tak kusangka dalam percakapan mungil kami temui sobat lama berkubang dalam santap siang sungguh lezat, semacam telor yang kami sangka jamur. seberapa lama kemudian, kami mengemudi kesuatu taman agung yang dibaluti kekagunman (sebelumnya kami berkenalan dengan ruang enak disisi atas bangunan yang disebut : kamar?) menjajaki sela-sela kota yang berjejal akhirnya bergabung juga daku bersama eksebisi rupa-rupa estetis kontemporer. sungguh indah namun tak ada kekhusukan idealuis yang kami damba (cukup sesal gitu loh) menyambangi berbagai objek dan mengambil beberapa lembar gambar , dalam sebuah ruang mini generasi memajang berbagai buku enak dan oke : dari heri dono, baginda agus suwage dan arsip katalok cepek eksebisi terdahulu. lezat! kami dan lldm bersama 2 kawan biasa. melajur kesisi kanan menjamah taman cerdik , secerdik kancil namun sebelumnya kami tak menyangka akan pasar seken hand yang menjajakan majalah idaman sejak lahir :C. sungguh tak menyangka, berniaga di tempat seperti itu mendapati hal nomor satu yang kami beli mahal sekali. saya berencana memborong suatu hari kelak (25itu2?), kamui berjamaaah dn melaju kepasar dan menghadapi dua buah objek ciamik km 0 sebelum ke eksebisi tadi. dalam pasar kami orang normal dan lelah tiada ampun -- kami membunuh masa dengan hampa dan bergerak ke pasar ponsel yang berbelit-belit dalam tumpangan yang lain, kami mengendarai burung agung dengan pengaman serasa era 90an. membujur dalam ranjang tanah menanti esok, menjelmamenjadi bulan berkah dihari lusa menyantap hidangan dan menyaksikan sandiwara elektronik
0 comments:
Posting Komentar