hari ini (pas itu 16 maayu 12) kelinci kutu buku bahagia
sekali, karena ia mendapatkan nilai ujicoba ulangan berwarna biru muda. Selidik punya selidik ,
nilainya ternyata bias mengangkatnya ke sekolah pengajar biologi dikotanya,
sekolah itu bernama ‘taman ria kelinci fanki masa kini’. Si kutubuku tidak
percaya akan hal yang ia peroleh, karena eh karena ia tidak melakukan persiapan
apapun sebelum melakukan tes ujicoba kemarin. Si kelelawar hitam periang
terheran-heran, ia padahal mengira si kutubuku tersebut akan mendapat nilai
buruk karena ia mengetahui kelinci sangat bodoh di 3 bidang bintang pelajaran
ilmu alam. Ia juga terheran heran karena kelinci tonggos goblok kutubuku itu
hari sebelumnya mengaku sakit dan tidak fit (kelelawar tahu, si kutubuku tidak
pernah berbohong kok).
Si kelinci gembira bukan kepalang di sudut kelas karena dua
hal. Karena pagi itu kelas sudah dihiasi oleh pak kerbau jenius dengan 2 buah
bunga baru yang sudah disiram segar setiap pagi sesudah bel dibunyikan, dan
yang kedua tentunya mengenai nilai uji
cobanya. Kelinci heran bukan kepalang karena seperti yang dipikirkan kelelawar
hitam periang mengenai kemampuan dirinya itu. Ia tidak pernah menyangka
demikian kecuali atas kehendak tuhannya sang penguasa alam yang ia selalu mohon
kepadanya dan kepada orang tuanya pak brewok tambun. Pak brwok tambun selalu
saja menasihati agar tidak cengeng dan penakut, tapi tetap saja si kelinci itu
penakut dan cengen dan masih tetap ngompol bo’.
Lantas kelinci tersebut saolto di udara karena girang dan
menyusuri jalan setapak menuju ke markas
rahasianya, markas tersebut dihubungkan oleh sebuah portal antar masa
berhubungan dengan alam warna. Alam tersebut hanya penuh dengan hal
menyenangkan , hari yang mendung selalu, karena awannya terhampar di tanah. Warna
alam tersebut pucat dan gothic. Namun sangat indah dipandang. Di alam itu ada
rumah gerimis indah seperti kastil yang ia nobatkan sebagai rumahnya. Di daerah
itu sangat banyak elektronik tua yang mirip di dunia hayawannya. Akan tetapi
lektronik tersebut sangat bagus tetapi lagi manual dan susah, maklum di daerah
tersebut orang-orangnya (hayawans) sangat idealis dan tidak terlalusuka hal
yang praktis, karena eh karena , hal yang praktis itu membunuh kreatifitas,
membuat malas, jadi goblok dan manja.
Lalu ia mendemonstrasikan mesin trendi bernama kalkulator futurisistik,
ia berusaha memolai terobsesi akan hal demikian, karena suatu saat ia wajib
menjalankan medan informatika technical buat masa depan cerah. Ya begitulah ,
kelincikutubuku yang goblok tersebut sangat tahu bahwa ia masih sangat buta
mengenai hal bilangan biner dan bahasa elektronik semacam kalkulator futuristic
tersebut . karena hingga kini ia selalu bermalas-malsan bersama dawai yang ia
rakit sendiri dan murah sekali. Ia selaluu saja menghabiskan waktu dalam alat music
dan elektronik canggih yang membikin ia goblok dan malas dan membuat namanya
ditambahi dengan’goblok tonggos’. Paadhal lho jeng, sebelumnya ia sangat jenius
dan relijius , tapi anti social. Nah anti social itulah yang membuat kelinci
itu jenius. Namun ia menyadari bahwa hidup itu butuh orang lain dan komunikasi
, maka ia harus berubah jadi human in social dan dengan konsekuensi jadi
tonggos dangoblok, ia menyadari akan filosofi pengorbanan dan begitulah
pokoknya.
Dan konsekuensi yang ia terima sangatlah berat, karena jadi
goblok, ia tidak diundang oleh pemerintah untuk menghadiri disko musical hip-hop
kaum kacamata, kasiaan deh. Namun ia menyadari bahwa itu adalah pertanda dari
tuhannya yang maha kuasa agar ia selalu berusaha , tidak malas malasan walaupun
sudah terlanjur goblok dan tonggos. Tapi bagaimana lagi, ia terlanjur behianat,
ia tetap malas tonggos dan goblok . selalu setiap pelajaran gaul ia tinggalkan,
dasar kacamata goblok.
Ia hanya berdo’a dan tidak berichtiar (tolol sekali), dan ia
kini menemukan portal itu secara tibatiba dan tidak ada yang menyana kehadiran
portal tersebut yang membuat ia rajin belajar lagi dan walupun tinggal ¾ bulan menghadapi ujian untuk
kembali berdiskoria bersama kaum trendi berkacamata. tamat
0 comments:
Posting Komentar